Anggota DPR RI Dr Maruli Siahaan Hadiri Opening Worship AsRA 2026 United Evangelical Mission (UEM) Asia

Medan, Nasional14 Dilihat

Anggota DPR RI Dr Maruli Siahaan Hadiri Opening Worship AsRA 2026 United Evangelical Mission (UEM) Asia, yang dipusatkan di HKBP Pardamean Jl Taduan Medan (ist)

Medan, INVOCAVIT.COM: Kombes Pol (Purn) Dr. Maruli Siahaan, S.H., M.H., anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua Panitia Asia Regional Assembly (AsRA) 2026, menghadiri Opening Worship AsRA 2026 United Evangelical Mission (UEM) Asia yang diselenggarakan di HKBP Ressort Pardamean Distrik X Medan–Aceh, Jl. Taduan No.94, Sidorejo, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara, Minggu (8/2).

Rangkaian pembukaan diawali dengan ibadah pembukaan yang berlangsung khidmat dan penuh penghayatan, dipimpin oleh Ompui Emeritus Pdt. Dr. Robinson Butarbutar. Ibadah ini menjadi fondasi rohani yang meneguhkan seluruh rangkaian kegiatan AsRA 2026, sekaligus menandai bahwa pertemuan regional gereja-gereja Asia ini berakar kuat pada spiritualitas iman, doa, dan persekutuan gereja.

Suasana pembukaan berlangsung sakral, memadukan nuansa spiritual dan kebangsaan. Dari dalam rumah ibadah yang menjadi ruang perjumpaan iman lintas bangsa, Maruli Siahaan menyampaikan pesan yang tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga menggugah kesadaran sosial dan kemanusiaan. Tema AsRA 2026, “The Beam in Our Eye: Discrimination in Church and Diaconia”, digaungkan sebagai panggilan moral bagi gereja-gereja di Asia untuk berani bercermin, mengakui keterbatasan, serta melakukan pembaruan diri secara jujur dan berani.

Dalam sambutannya, Maruli Siahaan menegaskan bahwa Asia Regional Assembly bukan sekadar agenda organisatoris dua tahunan, melainkan perjumpaan iman lintas bangsa, lintas budaya, dan lintas gereja. Pertemuan ini, menurutnya, menjadi ruang bersama untuk mendengarkan suara gereja-gereja Asia, menyatukan nurani, serta merumuskan arah pelayanan yang relevan di tengah dunia yang sedang bergulat dengan konflik, ketimpangan sosial, dan krisis kemanusiaan.

“Tema ini mengajak kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Gereja dipanggil untuk jujur mengakui bahwa praktik diskriminasi masih bisa hadir, bahkan dalam pelayanan yang kita anggap benar. Hanya dengan keberanian untuk bercermin, gereja dapat menjadi tanda kasih Allah yang membebaskan,” ungkap Maruli di hadapan para delegasi.

Nada sambutan Maruli mengalir puitis namun tegas. Ia menyerukan agar gereja tidak bersikap netral terhadap ketidakadilan, kekerasan, dan diskriminasi atas dasar suku, agama, gender, maupun status sosial. Gereja, menurutnya, harus berdiri di garda moral, bersuara bagi mereka yang terpinggirkan, serta menghadirkan pelayanan diakonia yang tidak berhenti pada belas kasih karitatif, tetapi bergerak menuju advokasi dan pemberdayaan yang memulihkan martabat manusia.

Sebagai Anggota DPR RI, Maruli juga menempatkan pesan pembukaan ini dalam bingkai kebangsaan. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan solidaritas yang diperjuangkan gereja sejalan dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia dan semangat konstitusi dalam menjunjung tinggi martabat manusia tanpa diskriminasi.

Pembukaan AsRA 2026 di Gereja HKBP Pardamean ini turut dihadiri oleh para pimpinan United Evangelical Mission, delegasi gereja-gereja anggota UEM dari berbagai negara Asia, serta para pelayan dan undangan. Dari tubuh HKBP sendiri, hadir sejumlah pimpinan gereja, antara lain Kepala Departemen Koinonia HKBP Pdt. Dr. Deonal Sinaga serta Kepala Departemen Marturia HKBP Pdt. Bernard Manik, M.Th.

Kehadiran para pimpinan gereja ini menjadi penegasan dukungan institusional HKBP terhadap agenda refleksi, pembaruan, dan kesaksian gereja di tingkat regional Asia.

Maruli Siahaan menutup sambutannya dengan harapan agar AsRA 2026 melahirkan komitmen bersama yang nyata—bahwa gereja-gereja di Asia tidak berjalan sendiri, melainkan saling menopang dalam persekutuan, memperjuangkan perdamaian, serta menegakkan keadilan dengan keberanian moral dan kerendahan hati.

Dari mimbar Gereja HKBP Pardamean, pesan itu bergema kuat: gereja dipanggil bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk bertindak; bukan hanya untuk berkhotbah, tetapi juga untuk berdiri bersama mereka yang lemah. Sebuah pembukaan yang menegaskan bahwa iman, ketika bertemu keberanian dan kasih, dapat menjadi cahaya pengharapan bagi Asia.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *