Ada Pesta Ulang Tahun Bernuansa LGBT di Padangsidimpuan, Kok Bisa…!!

Daerah118 Dilihat

INVOCAVIT.COM, P. SIDEMPUAN – Media sosial (medsos) dihebohkan dengan beredarnya video sebuah pesta ulang tahun yang dinilai mengandung unsur LGBT (Lesbian, Gay, Biseks, Transgender) di kota Padangsidimpuan (PSP).

 

Diketahui, lokasi acara itu berlangsung di salah satu Kafe Jembatan Siborang, tepatnya di Kelurahan Kantin, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Senin (20/2/2023) malam.

 

 

Video pesta perayaan ulang tahun itu pun lantas menjadi perbincangan masyarakat di Padangsidimpuan. Apalagi dalam video tersebut, terlihat banyak pria yang bersolek dan menggunakan pakaian wanita.

 

 

Acara ulang tahun itu juga diisi oleh parade yang menampilkan pria dengan menggunakan busana wanita. Mereka berjalan di karpet merah yang sudah disediakan oleh panitia ulang tahun seakan melaksanakan fashion show.

 

Tak heran, para tamu yang ada langsung menjerit-menjerit karena kegirangan. Diakhir acara, terlihat salah seorang waria memakai gaun warna putih berdiri di depan para tamu yang lain. Ada juga terlihat minuman merek anggur merah meramaikan suasana acara ulang tahun.

 

 

Rahman, salah seorang pegawai kafe mengakui adanya pesta perayaan ulang tahun di tempatnya. Dia mengatakan, pesta itu berlangsung pada pukul 22.00 WIB.

 

 

“Iya, ada pesta di sini,” ujarnya saat ditemui wartawan.

 

 

Sementara itu, terkait vidio LGBT viral itu, sejumlah warga di Kelurahan Kantin, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan mengaku sangat keberatan dengan pesta tersebut.

 

 

“Jelas kami sebagai warga merasa keberatan karena acara itu sudah dua hari. Mana pak wali kok tidak ada tindakan,” ujar Muhajir Siregar (41), salah seorang warga setempat.

 

 

Dia mengatakan, pesta LGBT itu telah menimbulkan kegaduhan sehingga warga merasa tidak nyaman.

 

 

“Suaranya terdengar jelas, mereka menjerit-jerit dan akibatnya bising,” tuturnya.

Namun, warga mengaku tidak bisa melarang, karena pemilik kafe mantan warga Kelurahan Kantin.

“Kami keberatan, tapi kami tidak bisa mencegah. Sebab, pemilik kafe mantan warga Kantin,” ujarnya.

Untuk itu dia berharap kepada pemerintah setempat agar melarang kegiatan-kegiatan seperti itu. Apalagi kegiatan Itu bertentangan dengan Kebudayaan Dilihan Natolu.(stc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *