Penyulingan Minyak Mentah di Langkat Tumbuh Subur, Polisi Tutup mata  

INVOCAVIT.COM, LANGKAT – Penyulingan minyak mentah (Condensat) ilegal bertabur di Kab Langkat. Kendati sudah sering terjadi ledakan dan kebakaran bahkan melukai masyarakat namun aktivitas penyulingan minya mentah yang dikeruk dari bekas sumur minyak Pertamina itu masih tetap beroperasi. Polisi terkesan membiarkan. Ironisnya lagi, praktik penyulingan itu berada di dekat pemukiman warga sekitar.

Seperti di Dusun Bukit Payung, Desa Kwala Besilam, Padang Tualang, Langkat, Sumatera Utara, beberapa warga tetap eksis mejalankan usaha ilegalnya. Perharinya, setiap dapur penyulingan di sana mengolah sedikitnya 2 ton condensat.

“Sekali masak menggunakan 3 bong (alat penyulingan) dengan 4 sambungan drum tiap bongnya. Tiap hari dapat menyuling sedikitnya 2 ton condensat,” tutur warga, sembari meminta hak tolaknya, Selasa (4/7/2023) siang.

 

Untuk condensatnya, kata warga, biasanya dibeli dari daerah Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dengan menggunakan drum – drum. Pengangkutannya menggunakan mobil Mitsubishi L300 dangan bak yang sudah dimodif.

 

Dari hasil penyulingan itu, menghasilkan berbagai jenis bahan bakar minyak (BBM) seperti bio solar, pertalite, dan jenis pertamax. Selanjutnya, produk BBM dari hasil penyulingan ilegal itu dipasarkan ke mafia – mafia penimbun BBM.

 

 

Selain itu, di Dusun II Sepakat, Desa Serapuh Asli, Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, terdapat gudang yang diduga digunakan untuk menimbun BBM. Bahkan, gudang itu disebut – sebut sudah beroperasai sejak setahun terakhir.

Diinformasikan, dapur penyulingan condensat di Tanjung Pura, Padang Tualang dan Gebang telah beberapa kali terbakar dan menimbulkan ledakan hebat. Tapi para pengelolanya terkesan acuh dengan risiko yang ditimbulkan. Dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, mereka abai dengan keselamatan warga sekitar.

 

Bahkan, informasi beredar minyak hasil penyulingan itu  ditampung disalahsatu  gudang dekat rumah mantan anggota Ditresnarkoba Poldasu dikawasan Jalan Gurusinumba, Helvetia. Yang kemudian dijual kepada pengecer yang banyak ditemukan dipinggir jalan dengan menggunakan botol air mineral.

 

Selain diecer ke pinggir jalan, minyak hasil penyulingan itu juga dijual ke pabrik-pabrik dengan harga miring.(jos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *